Kamis, 14 November 2013

KONSEP DASAR LANDASAN MANAJEMEN PENDIDIKAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Lembaga Pendidikan  merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya Pendidikan adalah “usaha sadar dan direncanakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”. Dalam pelaksanaannya sebuah lembaga pendidikan kerap-kali dihadapkan pada problem-problem sistem pembelajaran, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana, materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses.
Dalam perkembangannya lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang non-profit oriented, memaksa pelaksana pendidikan menggunakan teori-teori yang sebelumnya sudah berkembang dalam dunia ekonomi. Maka tak heran ketika kita mendengar adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya itu diambil dari teori-teori manajemen dalam dunia bisnis. Bukan berarti setelah meminjam teori manajemen ekonomi sebuah lembaga pendidikan menjadi komersial, tetapi semata-mata hanyalah digunakan sebagai landasan yang sistematis untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Sehingga hasilnya pun tidak bisa seperti yang diharapkan kalau seseorang menerapkan teori manajemen dalam bidang bisnis.
Pada saat sekarang dan masa yang akan datang, sesuai dengan masyarakat serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi manajemen diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dan kelembagaan, seperti dibidang ekonomi, pemerintah, militer, kemasyarakatan, dan pendidikan. Dalam rangka untuk membantu peningkatan mutu pendidikan, para pengelola pendidikan dituntut untuk selalu memperkaya wawasan pengetahuan serta kemampuan yang relevan dengan pekerjaannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat turut menentukan arah perkembangan masyarakat dewasa ini, yang secara langsung berkaitan erat dengan dunia pendidikan.namun persoalan yang  sering muncul adalah menyangkut lulusan yang apabila dihadapkan pada kebutuhan tenaga kerja, sangat terasa betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia di negara  kita. Sebagian masyarakat dari dunia pendidikan mengklaim bahwa faktor penyababnya adalah menyangkut sistem dan manajemen penyelenggaraan pendidikan.
1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penulis dapat merumuskan beberapa masalah
  1. Apa pengertian lembaga itu sendiri?
  2. Apa yang dimaksud dengan landasan manajemen?
  3. Mencakup apa saja ruang lingkup landasan manajemen pendidikan?

1.3  Tujuan Penulisan
Setiap sesuatu yang ada didunia ini pasti mempunyai tujuan tersendiri tak terkecuali makalah ini, yang pastinya juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh kami, diantaranya adalah:
1.      Mengetahui arti dari landasan manajemen pendidikan serta ruang lingkupnya.
2.      Sebagai pengalaman dalam dunia kepenulisan yang dituntut untuk selalu memberikan asupan terhadap perkembangan kehidupan.
3.      Sebagai tugas kelompok untuk memenuhi tugas mata kuliah landasan manajemen pendidikan.



BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Dasar Landasan Manajemen Pendidikan
2.1  Definisi Landasan Manajemen Pendidikan
1.      Definisi Landasan
Landasan secara bahasa dapat diartikan sebgai fondasi,dasar, asas, patokan dan setandar. Landasan merupakan hal terpenting dalam segala hal, karena baik tidaknya sesuatu yang dibuat tergantung dasarnnya.[1]
2.      Definisi Manajemen
Manajemen adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.[2] Selain itu Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu oleh Luther Gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja sama. Dikatakan sebagai kiat oleh Follet karena manajemen mencapai sasaran melalui cara-cara dengan mengatur orang lain menjalankan dalam tugas. Dipandang sebagai profesi karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer, dan para profesional dituntun oleh suatu kode etik.[3]
Para ahli masih berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan karenanya belum dapat diterima secara universal. Namun demikian, terdapat konsensus bahwa manajemen menyangkut derajat keterampilan tertentu.
Dalam proses manajemen terlibat fungsi-fungsi yang ditampilkan oleh seorang manajer atau pimpinan yaitu perencana (Planning), pengorganisasian (Organizing), pemimpinan (leading) dan pengawasan (Controlling). Oleh karena itu, Manajemen diartikan sebagai proses perencana, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.
3. Definisi Pendidikan
Menurut Driyarkara (1980), Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda, pengangkatan manusia muda ke taraf pendidik. Dalam Dictionary of Education dinyatakan bahwa pendidikan adalah: (a) proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup, (b) proses sosial yang terjadi pada orang yang diharapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan sosial dan kemampuan individu yang optimum. Dengan kata lain pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang sifatnya permanen (tetap) dalam tingkah laku, pikiran, dan sikapnya.[4]
Berdasarkan pengertian tersebut dapat diidentifikasikan beberapa ciri  pendidikan, antara lain, yaitu:
a.       Pendidikan mengandung tujuan, yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup.
b.      Untuk mencapai tujuan itu, pendidikan melakukan usaha yang terencana dalam memilih isi (materi), strategi, dan teknik penilaiannya yang sesuai.
c.       Kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (Formal dan non formal)[5]
Manajemen pendidikan adalah suatu proses atau sistem pengelolaan/organisasi dan peningkatan kemanusiaan (human enginering) dalam kaitannya dengan suatu sistem pendidikan. Kegiatan-kegiatan pengelolaan pada suatu sistem pendidikan bertujuan untuk keterlaksanaan proses belajar mengajar yang relevan, efektif, dan efesien dapat terjadi bila di lengkapi dengan sarana yang terbentuk satu wadah organisasi dan ditunjang oleh:
1.      Kelompok pemimpinan dan pelaksanaan
2.      Fasilitas dan alat pendidikan
3.      Program pendidikan dengan sistem pengelolaan yang baik[6].
Menagemen pada hakekatnya adalah fungsi untuk melakukan penataan semua kegiatan dalam pendidikan agar tujuan pendidikan tercapai dalam batas-batas kebijakan yang telah ditentukan .                                                                                 Sebagai penyelenggara pendidikan menagemen pendidikan tidak menentukan kebijakan-kebijakan yang bersifat kelembagaan . Knezevich (1984:9) mendifinisikan bahwa menagemen pendidikan memiliki berbagai kegiatan yang sangat kompleks dan saling berhubungan . Menagemen pendidikan juga merupakan sekumpulan fungsi untuk menjamin efisiensi dan efktivitas pelayanan pendidikan , melalui perencanaan , pengambilan keputusan , perilaku ,kepemimpinan , penyiapan alokasi sumber daya , stimulus dan koordinasi personil , penciptaan iklim organisasi yang konduktif , serta penentuan pengembangan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didfik dan masyarakat di masa depan . Menagemen pendidikan merupakan rangkaian kegiatan bersama atau keseluruhan proses pengendalian usaha atas kerjasama sekelompok orng dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara berencana dan sistematis , yang diselenggarakan pada suatu lingkungan tertentu .[7]
2.2  Ruang Lingkup Landasan Manajemen Pendidikan
Manajemen pendidikan secara umum memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada manajemen sekolah. Manajemen pendidikan tidak hanya menyangkut penataan pendidikan formal (sekolah, madrasah dan perguruan tinggi), tetapi juga pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal, seperti TPA/TPQ, pondok pesantren, lembaga-lembaga kursus maupun lembaga-lembaga pendidikan yang berkembang di masyarakat: majlis taklim, PKK, karang taruna, pembinaan wanita dan yang lainnya. Untik memudahkan bahasan ini, maka penulis lebih banyak menggunakan istilah “sekolah” untuk mewakili kegiatan pendidikan formal.
Ruang lingkup manajemen organisasi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kegiatan yaitu manajemen administrative dan manajemen operatif.
Manajemen administrative: Bidang kegiatan ini disebut juga management of administrative function, yakni kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan agar semua orang dalam organisasi /kelompok kerja sama mengerjakan hal-hal yang tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
Manajemen operatif: Bidang kegiatan ini di sebut juga managemen of operative function, yakni kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan dan membina agar semua orang yang melaksanakan pekerjaannya yang menjadi tugas masing-masing dapat dengan tepat dan benar.[8]
Adapun ruang lingkup menajemen pendidikan ini secara lebih rinci dapat di jelaskan sebagai berikut:
1)      Manajemen kurikulum, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan tentang pendataan mata pelajaran/mata kuliah yang diajarkan/dipasarkan, waktu jam yang tesedia, jumlah guru beserta pembagian jam pelajaran, jumlah kelas, penjadwalan, kegiatan belajar-mengajar, buku-buku yang dibutuhkan, program semester, evaluasi, program tahunan, kelender pendidikan, perubahan kurikulum maupun inovasi-inovasi dalam pengembangan kurikulum.[9]
2)      Manajemen ketenagaan pendidikan (kepegawaian), meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan penerimaan pegawai baru, mutasi, surat keputusan, surat tugas, berkas-berkas tenaga kependidikan, daftar umum kepegawaian, upaya peningkatan SDM serta kinerja pegawai, dan sebagainya.
3)      Manajemen peserta didik, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan penggalangan penerimaan siswa baru, pelaksanaan tes penerimaan siswa baru, penempatan dan pembagian kelas, kegiatan-kegiatan kesiswaan, motivasi dan upaya peningkatan kualitas lulusan dan sebagainya.
4)       Manajemen perlengkapan sekolah,
Manajemen perlengkapan sekolah dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien. Perlengkapan sekolah atau juga sering disebut dengan fasilitas sekolah, dapat dikelompokkan menjadi: (1) sarana pendidikan; dan (2) prasarana pendidikan.[10] Sarana dan prasarana pendidikan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan pengadaan barang pembagian dan penggunaan barang (inventaris), perbaikan barang, dan tukar tambah maupun penghapusan barang.
5)       Manajemen keuangan/ pembiayaan pendidikan, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan masuk dan keluarnya dana, usaha-usaha menggali sumber pendanaan sekolah seperti kegiatan koperasi serta penggunaan dana secara efisien.
6)      Manajemen/administrasi perkantoran, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan kantor agar memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua orang yang membutuhkan serta berhubungan dengan kegiatan lembaga.
7)       Manajemen unit-unit penunjang pendidikan, melipiti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan ddan evaluasi kegiatan unit-unit penunjang, misalnya bimbingan dan penyuluhan (BP), perpustakaan, UKS, pramuka, olahraga, kesenian, dan sebagainya.
8)       Manejemen layanan khusus pendidikan, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan pelayanan khusus, misalnya menu makanan/konsumsi, layanan antar jemput , bimbingan khusus di rumah, dan sebagainya.
9)       Manajemen tata lingkungan dan keamanan sekolah meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi tata ruang pertamanan sekolah, kebersihan dan ketertiban sekolah, serta keamanan dan kenyamanan lingkungan sekolah.
10)   Manejemen hubungan dengan masyarakat, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi kegiatan hubungan masyarakat, misalnya pendataan alamat kantor/orang yang dianggap perlu, hasil kerjasama, program-progran humas, dan sebagainya.
Secara umum, semakin besar dan maju suatu lembaga pendidikan, semakin banyak ruang lingkup manajemen yang harus ditangani sekolah. Demikian juga ssebaliknya, semakin rendah dan kecil sekolah semakin ssedikit ruang lingkup manajemen yang harus ditanganinya. Missalnya manajemen sekolah yang tergolong kecil dan bermutu rendah lebih sederhana pengelolaannya seperti sekolah-sekolah dasar yang ada di pelosok desa dibanding dengan manajemen sekolah yang tergolong besar dan maju seperti sekolah Al-Azhar Kebayoran Jakarta, Pondok Modern Ponorogo, MIN Malang I dan sebagainya.[11]


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan
Manajemen pendidikan sebagai suatu proses atau sistem pengelolaan. Kegiatan-kegiatan pengelolaan pada suatu sistem pendidikan bertujuan untuk keterlaksanaan proses belajar mengajar yang relevan, efektif, dan efesien dapat terjadi bila di lengkapi dengan sarana yang terbentuk satu wadah organisasi dan ditunjang oleh:
1.      Kelompok pemimpinan dan pelaksanaan
2.      Fasilitas dan alat pendidikan
3.      Program pendidikan dengan sistem pengelolaan yang baik.
3.2 Saran-saran
Seharusnya untuk meningkatkan mutu pendidikan kita dapat melalui penerapan pengelolaan pendidikan yang baik dan menanamkan moral yang baik bagi anak didik kita. Tanpa adanya penerapan tersebut maka kemungkinan segala upaya peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan tidak akan mendapatkan hasil yang optimal. Serta dengan menjadikan manajeman sebagai landasan pendidikan. Dan berfungsi sebagai berikut :
1.      Manajemen sebagai perencana dalam membangun suatu lembaga atau proses perencana untuk mencapai efektif dan efisien.
2.      Manajemen pendidikan merupakan pokok utama dalam menguasai ilmu pendidikan dan seorang manajer untuk menjadi profesional.
3.      Manajemen pendidikan juga mempengaruhi lingkungan dalam menentukan anak didik atau seorang manajer
4.      Tujuan manajemen untuk mengembangkan potensi individu agar mampu berdiri sendiri.



                                   DAFTAR PUSTAKA           
Nanang Fattah.2001.Landasan Manajemen Pendidikan..Bandung:  PT. RosdaKarya
H. Haadari Nawawi.1989.Administrasi Pendidikan. Jakarta: CV Haji Masagung
Oemar Hamalik.2007.Manajemen Pengembangan Kurikulum.Bandung: PT. Rosdakarya
Made pidarta.1990.Cara Belajar Mengajar Di Universitas Negara Maju.Jakarta:Bumi Aksara
Ibrahim Bafadal.2008.Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya.Jakarta:PT.Bumi Aksara
Sugiono,Barto,dkk.2010.Pengantar Ilmu Pendidikan.Surabaya:Bintang


[1]http://fillahabadanwahyu.blogspot.com/2011/04/makalah-landasan-pendidikan.html#!/2011/04/makalah-landasan-pendidikan.html
[2] Made pidarta.1990.Cara Belajar Mengajar Di Universitas Negara Maju.Jakarta:Bumi Aksara,5.
[3] Nanang Fattah.1996.Landasan Manajemen Pendidikan.Bandung:PT.RosdaKarya,1.                    
[4] Nanang Fattah.1996.Landasan Manajemen Pendidikan.Bandung:PT.RosdaKarya, 4
[5] Nanang Fattah.1996.Landasan Manajemen Pendidikan.Bandung:PT.RosdaKarya, 5.
[6] Oemar Hamalik.2007.Manajemen Pengembangan Kurikulum.Bandung:PT.Rosdakarya, 78-79.
[7][7] Sugiono,Barto,dkk.2010.Pengantar Ilmu Pendidikan.Surabaya:Bintang.101.

[8] http://r-vai.blogspot.com/2010/02/ruang-lingkup-manajemen-pendidikan.html

[9] H. Haadari Nawawi. Administrasi Pendidikan. (Jakarta: CV Haji Masagung, 1989), 68
[10] Ibrahim Bafadal.2008.Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasinya.Jakarta:PT.Bumi Aksara.2.

[11] http://r-vai.blogspot.com/2010/02/ruang-lingkup-manajemen-pendidikan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar